Pada distributor bodi terdapat komponen sistem pengajuan saat pengapian (advancer) yang harus diperiksa yaitu :
1. Governor advancer
2. Vacuum advancer
3. Oktan selector
GOVERNOR ADVANCER
Governor advancer berfungsi untuk mengajukan saat pengapian pada saat putaran mesin tinggi.Cara pemeriksaannya adalah dengan memutar rotor searah jarum jam dan kemudian dilepas rotor akan kembali
Pada bagian dalam distributor terdapat governor advancer yang berfungsi untuk memajukan saat pengapian disesuaikan dengan pertambahan putaran mesin. Governor advancer ini terdiri dari governor weight dan pegas, dan bekerjanya dengan gaya sentrifugal.
Governor advancer (centrifugal advancer) terdiri dari sepasang pemberat (weight) dan pegas yang dipasang sedemikian rupa, Dengan bertambahnya putaran mesin dan dengan gaya sentrifugal, pemberat (weight) ini yang berhubungan dengan nok akan terdorong keluar dan memungkinkan platina membuka lebih cepat.
VACUUM ADVANCER
• Vacuum advancer berfungsi untuk mengajukan saat pengapian berdasarkan kevacuuman intake manifold
• Cara pemeriksaannya
Isaplah slang yang ke vacuum advancer dan perhatikan dudukan platina maka kelihatan ada gerakan, apabila tidak berarti ada kebocoran atau terjadi kemacetan pada plat rumah platina
Vacuum advancer bekerja dengan adanya kevakuman pada intake manifold. Pada waktu throttle valve dibuka tiba-tiba (akselerasi), dengan terjadinya kevakuman akan menarik diaphragma yang berhubungan dengan dudukan platina (backing plate) sehingga dapat mempercepat masa pengapian. Bila throttle valve membuka penuh, maka penarikan terhadap diaphragm akan berkurang.
OCTAN SELECTOR
√ Oktan selector adalah komponen untuk mengajukan pengapian berdasarkan nilai oktan bahan bakar.
√ Sebelum melakukan pemeriksaan saat pengapian, putarlah oktan selector pada posisi standard (garis tebal berada segaris dengan rumah)
√ 1 X putaran oktan selector searah jarum jam maka akan mengajukan pengapian 5 derajat
PUTARAN IDLE MESIN
Sebelum kita melakukan penyetelan saat pengapian maka kita harus memastikan putaran mesin dalam kondisi idle yang tepat, caranya :
a. Putar baut penyetel campuran bahan bakar hingga didapatkan putaran yang max.
b. Putar baut penyetel putaran idle hingga dicapai putaran Idle yang tepat.
PEMERIKSAAN SAAT PENGAPIAN
Pada motor bakar saat pengapian merupakan sangat penting didalam menentukan tenaga mesin, untuk itu saat pengapian harus diperiksa saat kita melakukan tune up mesin.
PENYETELAN SAAT PENGAPIAN
Pada saat penyetelan saat pengapian apabila distributor menggunakan vacuum advancer ganda maka kita harus melepas slang yang ke idle advancer terlebih dahulu
Apabila saat pengapian tidak tepat, kita kendorkan baut pengikat rumah distributor dan putarlah rumah distributor (distributor bodi) dan tepatkan saat pengapian sesuai standard mesinnya.
PENYETELAN SAAT PENGAPIAN
Apabila saat pengapian tidak tepat, kita kendorkan baut pengikat rumah distributor dan putarlah rumah distributor (distributor bodi) dan tepatkan saat pengapian sesuai standard mesinnya.
Home » All posts
DISTRIBUTOR BODI
TUNE UP MOTOR BENSIN
Mobil terdiri dari sejumlah komponen, dengan dioperasikannya kendaraan dalam waktu tertentu, maka kemampuan komponen yang fungsional (termasuk minyak pelumas) akan berkurang karena terjadi keausan, memburuk, berkarat, atau ada bagian-bagian yang perlu penyetelan.
Perubahan–perubahan ini meskipun lambat tetap berlangsung pada bagian-bagian tertentu. Oleh sebab itu, mesin perlu pemeriksaan, pembersihan, penyetelan atau penggantian, agar kemampuan mesin tetap berada pada kondisi baik atau optimal. Dengan melakukan pemeriksaan, berarti membatasi menurunnya kemampuan dan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih berat pada mesin.
Perlu diperhatikan, dalam melakukan tune up, antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lainnya saling berhubungan, dan untuk memperoleh hasil yang diharapkan sebaiknya pekerjaan tune up dilakukan dengan mengikuti prosedur yang benar.
1. PROSEDUR MELAKUKAN ENGINE TUNE – UP
Pekerjaan Tune up mesin bertujuan mengembalikan kondisi kendaraan kembali seperti semula (bertenaga), untuk menghasilkan seperti yang kita inginkan maka perlu melakukan pekerjaan tune up sesuai dengan prosedur yang benar yaitu :
Pekerjaan yang dilakukan pada saat mesin masih dingin
Pekerjaan yang dilakukan pada saat mesin bisa hidup/mesin hidup
Pekerjaan yang dilakukan pada saat mesin telah panas (temperatur kerja)
A. Pemeriksaan Mesin pada saat masih dingin/mesin mati
1.Pemeriksaan minyak pelumas mesin
2.Pemeriksaan sistem pendingin mesin
3.Pemeriksaan tali kipas
4.Pemeriksaan saringan bensin
5.Pemeriksaan saringan udara
6.Pemeriksaan baterai
7.Sistem pengapian
B. Pemeriksaan Mesin pada saat hidup
1. Pemeriksaan Dwell Angle
2. Pemeriksaan/penyetelan putaran idle
3. Pemeriksaan saat Pengapian
C. Pemeriksaan setelah mesin dipanaskan
1. Pemeriksaan Celah Katup
2. Pemeriksaan kerja Karburator
3. Pemeriksaan/penyetelan putaran idle
4. Pemeriksaan Kompresi
5. Tes Jalan
Catatan: Pekerjaan Tes Kompresi & Tes Jalan dilakukan bila kemampuan mesin tidak bertenaga/menurun atau diperlukan
PEMERIKSAAN PADA SAAT MESIN PANAS
I. Penyetelan Celah katup
Celah katup (valve clearance) diperlukan untuk membuat katup bisa menutup dengan rapat pada dudukannya. Namun bila celah terlampau lebar juga akan berakibat timbulnya suara yang tidak normal pada saat mesin hidup (suara berisik).
Untuk itu celah katup harus diperiksa atau distel pada saat kita melakukan Tune up mesin.Sebelum melakukan penyetelan celah katup periksa kekencangan baut kepala silinder. (untuk pengerasan dilakukan pada saat mesin dingin)
Sistem mekanisme katup ada beberapa macam antra lain :
1. Mekanisme katup konventional (dengan baut penyetel)
2. Mekanisme katup dengan penyetel menggunakan Shim
3. Mekanisme katup dengan penyetelan otomatis (tanpa distel)
PENYETELAN CELAH KATUP
Pada kesempatan ini kami hanya akan menjelaskan cara penyetelan celah katup yang konventional dan menggunakan shim saja, Perbedaan penyetelan yang konventional dengan yang menggunakan shim diantaranya :
1. Sistem konventional dilakukan pada saat temperatur kerja mesin (panas)
2. Sistem menggunakan shim dilakukan pada saat mesin dalam kondisi dingin.
1. Penyetelan celah katup konvensional
Panaskan mesin hingga temperatur kerja mesin
Yakinkan baut kepala silinder dan baut rocker arm dalam kondisi keras.
Posisikan silinder no.1 pada TMA (lihat tanda pada pully)
Lakukan penyetelan dengan urutan dari depan; buang–hisap-hisap–buang
Untuk ukuran celahnya EX. 0.30 mm dan In. 0.20 mm
Kemudian putar pully 1 x putaran/360 derajat, posisikan silinder no. 4 pada TMA
Ukur/stel celah katup dengan urutan:
Buang–masuk–masuk–buang
Catatan :
Gunakan fuller yang masih baik (belum aus)
Pada saat menyetel tarikan feller gauge harus lurus
Rasakan untuk semua celah katup tarikannya sama
PEMERIKSAAN KARBURATOR
II. Pemeriksaan Karburator
Setelah kita selesai melakukan pekerjaan penyetelan celah katup, maka kita tutup kembali mekanisme katup dengan tutup-nya.
Kemudian kita hidupkan mesin dalam kondisi komponen terpasang semua :
1. Filter udara
2. Kabel gas
3. Pada saat putaran idle perhatikan apakah putaran mesin tenang (tidak goyang)
4. Pada saat kita tambahkan putaran mesin (asselerasi) terasa nyaman/tidak mbrebet
5. Kita tahan putaran menengah kondisi putaran rata (tidak goyang)
6. Pada saat kita akselerasi dengan tiba tiba tidak ada suara ngelitik terlalu panjang
7. Apabila kondisi diatas baik maka berarti kondisi karburator baik
PEMERIKSAAN KOMPRESI
Pemeriksaan Kompresi hanya dilakukan apabila diperlukan saja (tenaga mesin menurun) dan dilakukan oleh 2 orang.
Caranya:
1. Panaskan mesin
2. Buka semua busi
3. Pijak pedal gas penuh
4. Pasang compresion tester pada busi no 1 – 4
5. Starter mesin dengan putaran 250 rpm atau lebih
6. Tekanan minimum 8.0 kg/cm2 Normal >11 Kg/cm2
7. Perbedaan tekanan tiap silinder < 0.7 Kg/cm2
Apabila didapat hasil pengukuran tekanan rendah maka, beri oli lewat lubang busi
Bila diulang tekanan naik berarti terjadi keausan diantara piston dan silinder, sehingga terjadi kebocoran kompresi
Bila tetap rendah, berarti terjadi kebocoran dari katup (valve)
TES JALAN
Tes jalan juga merupakan pekerjaan di dalam melakukan engine tune up, namun dilakukan apabila diperlukan saja, dan pekerjaan engine tune up telah dilakukan. Pada saat tes jalan perlu diperhatikan:
1. Kondisi meter kombinasi
2. Kondisi mesin, tenaga mesin
3. Suara abnormal yang terjadi
4. Periksa saat pengapian
SISTEM PELUMAS MESIN
a. FUNGSI MINYAK PELUMAS
Membentuk lapisan (oil film),Mencegah kontak langsung permukaan logam satu dengan yang lainnya. Mengurangi gesekan, mencegah keausan dan panas.
Mendinginkan bagian-bagian mesin.
Oli berfungsi sebagai perapat (seal) antara torak dan dinding silinder.
Oli mengeluarkan kotoran dari bagian mesin.
Melindungi bagian-bagian mesin dari karat.
b. CARA PEMERIKSAAN MINYAK PELUMAS
Minyak Pelumas mesin perlu dilakukan pemeriksaan pada saat kita melakukan pekerjaan Tune-Up Mesin adapun cara pemeriksaannya adalah sebagai berikut:
Tempatkan kendaraan ditempat yang rata
Apabila kendaraan habis perjalanan/ panas, tunggu 30 menit
Apabila kendaraan dalam kondisi dingin hidupkan 1-3 menit kemudian matikan
Tarik batang pengukur minyak dan bersihkan dengan kain lap, kemudian masukkan kembali dengan tepat.
Tarik kembali batang pengukur kemudian perhatikan :
• Periksa volume minyak ,harus pada level F dan L pada batang pengukur
• Periksa Viskositas (kekentalan minyak) dengan jari tangan
• Periksa perubahan warna minyak mesin
c. PERUBAHAN WARNA MINYAK MESIN
Warna merah berarti minyak tercampur bensin
Warna kelabu berarti bercampur serbuk bantalan
Warna susu berarti bercampur dengan air
Warna coklat berarti bercampur dengan karbon
Minyak pelumas mesin bensin disarankan menggunakan minyak dengan tingkat kekentalan (viskositas) SAE 30 atau 20W/50 dengan API service SE keatas 2. SISTEM PENDINGIN MESIN
Temperatur air pendingin selama mesin bekerja ada diantara 80ºC - 85ºC atau biasa disebut temperatur kerja mesin. Dibawah ini diterangkan bagian-bagian sistem pendingin yang perlu mendapatkan perhatian dan pemeriksaan pada waktu-waktu tertentu untuk membatasi kemungkinan terdapat kelainan atau kerusakan
B U S I
Tegangan tinggi dari ignition coil membangkitkan loncatan api listrik antara elektroda tengah dan elektroda sisi busi untuk membakar campuran udara dan bahan bakar yang dimampatkan dalam ruang bakar. Busi harus menjaga kemampuan pengapiannya dalam periode yang cukup lama dalam menghadapi pembakaran dan tekanan temperatur yang tinggi.
1) Bila melepas kabel busi (high tension cable) tariklah bagian ujung fittingnya, dan jangan menarik kabel busi secara kasar
2) Pada waktu melepaskan busi gunakan kunci busi, posisikan dengan tepat dan jangan miring. Kedudukan kunci busi yang tidak tepat akan merusak insulator busi.
3) Pada saat memasang busi putarlah ujung kunci dengan tangan, yakinkan bahwa ulir telah masuk dengan tepat, baru kemudian kencangkan dengan menggunakan stang
CARA PEMERIKSAAN BUSI
1. Periksalah Insulator busi, apakah ada keretakan
2. Periksalah/bersihkan ulir busi
3. Periksa keausan elektroda busi
4. Periksa gasket busi
5. Periksa kondisi elektroda busi
6. Periksa celah elektroda/gap busi
Pemeriksaan :
1. Dengan menggunakan lap bersihkan elektroda busi, dan periksalah apakah elektroda ada keretakan, gantilah (4 pc)busi bila terdapat keretakan pada busi
2. Bersihkan (dengan bensin) ulir busi, dan periksalah apakah ulirnya telah rusak
3. Bersihkan busi dan periksalah keausan elektroda dan warnanya celah busi 0.80 mm (busi biasa) dan penggantian setiap 20.000 km
Warna : 1. Abu-abu muda pembakaran baik
2. Warna putih, mesin terlalu panas (over heat)
3. Hitam basah, minyak pelumas ikut terbakar
4. Hitam atau kering, campuran terlalu kaya
4. Pada beberapa merk mobil tertentu, untuk melepaskan busi-businya diperlukan kunci busi yang bentuknya agak khusus,
5. Usahakan agar kotoran tidak jatuh dan masuk kedalam lubang busi pada kepala silinder. Dengan melakukan pemeriksaan secara visual akan dapat diketahui keadaan busi sebenarnya dan kemungkinan terdapat kerusakan seperti diuraikan dibawah ini.
6. Keadaan ulir dan insulator kemungkinan telah retak dan rusak.
7. Kebocoran gas yang terjadi pada bagian gasket antara insulator dan rumah busi (plug housing).
8. Keausan pada gasket busi.
9. Keadaan elektroda terbakar dan terdapat endapan karbon.
Catatan :
Periksalah warna busi setelah dipakai
A. Abu-abu muda : Menandakan mesin dalam keadaan baik, tingkat panaas busi tepat.
B. Warna putih : Menunjukan mesin cenderung terlalu (overhaet) campuran udara dan bensin terlalu kurus, tingkat panas terlalu rendah.
C. Hitam basah : Minyak pelumas mesin masuk keruang pembakaran melalui silinder dan torak.
D. Hitam atau kering : Campuran udara dan bensin terlalu kaya, cenderung udara yang masuk lebih sedikit, pembakaran tidak tepat, tingkat panas busi terlalu tinggi
PEMBERSIHAN BUSI
1) Jangan menggunakan pembersih busi (spark plug cleaner) terlalu lama dari yan diperlukan, sebab ini dapat mengikis insulator dan elektroda busi.
2) Bersihkan dengan jalan meniupkan udara, karbon dan kotoran yang terdapat pada ulir busi sehingga menjadi bersih.
Bersihkan kotoran dari bagian luar permukaan insulator busi.
PEMERIKSAAN CELAH BUSI
Periksa celah busi dengan memasukkan alat pengukur (feeler gauge) antara elektroda tengah dan elektroda sisi, gambar samping. Celah busi disetel dengan membengkokkan elektroda massa dan celahnya disesuaikan dengan petunjuk yang tertera pada buku pedoman reparasi.
PEMERIKSAAN BUSI
1) Penyetelan celah 0.8 mm – 1.1 mm
2) Jangan mencampur baurkan jenis busi panas dan busi dingin.
3) Besar delah busi biasa dengan busi platina berbeda. Busi platina (kedua ujung elektroda terdapat lapisan platina) pada bagian luarnya (insulator) diberi tanda garis-garis biru.
Perhatian: Bila mengganti busi baru sebaiknya diperiksa terlebih dahulu celahnya kemudian baru dipasang. Bila mengganti busi baru, baiknya memilih dan menggunakan busi yang disarankan oleh pabrik, atau lihat pada buku Pedoman Reparasi dari mobil yang bersangkutan.
PEMERIKSAAN KABEL BUSI
Untuk mencegah kebocoran arus dari kabel tegangan tinggi (kabel busi) ini dibungkus insulator karet yang tebal. Insulator karet ini masih diberi pelindung dengan bahan yang diberi nama sheath. Bagian dalam kabel busi disebut kabel resitif (resitive wire) terbuat dari fibreglass yang dilapisi dengan karbon dan karet sintetis yang digunakan untuk sebagai inti (core) untuk memberikan kekuatan dan mencegah timbulnya suara bisik pada radio.
1. Periksa tahanan kabel-kabel busi dengan menggunakan multitester. Ukur tahanan kabel-kabel busi antara terminal-terminal
Perhatian : Pada saat pengukuran diperiksa juga keadaan kabel busi dengan menyentuhkan test lead multi tester pada terminal dan bila digerakkan bagian ujung tengah kabel dengan tangan dan jarum tester harus tidak berubah. Tahanan pada tiap kabelnya harus kurang dari 25 K. Bila dari hasil pengukuran ternyata lebih besar, sebaiknya kabel busi ini diganti.
Bila kabel busi longgar waktu dipasang pada terminalnya perbaikilah dengan menggunakan tang penjepit
PEMERIKSAAN PADA SAAT MESIN HIDUP
Adapun pemeriksaan pada saat mesin hidup antara lain meliputi:
1. Pemeriksaan Dwell Angle
2. Pemeriksaan/penyetelan putaran idle
3. Pemeriksaan saat Pengapian
PEMERIKSAAN DWELL ANGLE
Dwell angel (CDA) adalah sudut antara platina mulai menutup sampai platina membuka. Untuk mesin 4 silinder CDA 520 ± 60
Pada saat melakukan engine tune up periksalah CDAnya karena apabila CDAnya terlalu besar coil akan dankalau terlalu kecil kemagnetan primer coil akan kecil dan induksi sekunder juga kecil.
Catatan :
Apabila CDA lebih besar dari standard berarti penyetelan celah platina terlalu kecil (rapat)
Apabila CDA lebih kecil dari standard berarti penyetelan celah platina terlalu besar
Apabila CDA berubah ubah kemungkinan disebabkan oleh nok distributor aus, bantalan poros distributor rusak atau pegas platina rusak.
Hal ini harus dilakukan perbaikan/penggantian terlebih dahulu.
PEMERIKSAAN / PENYETELAN PUTARAN IDLE
Sebelum kita melakukan pemeriksaan saat pengapian, maka kita harus memeriksa putaran idle apakah sudah standard putaran idle apa belum dalam posisi air filter harus terpasang, seandainya belum kita harus melakukan penyetelan terlebih dahulu dengan cara sebagai berikut:
PENYETELAN PUTARAN IDLE
Hidupkan mesin hingga temperature kerja
Putar baut penyetel campuran (idle mixture adjusting screw) hingga tepat (rpm tinggi max)
Putar baut penyetel putaran idling (idle speed adjusting screw) hingga putaran idle tercapai
Mesin tipe K putaran idle 750 rpm (tanpa beban AC)
PEMERIKSAAN SAAT PENGAPIAN
Catatan :
1. Sebelum pemeriksaan saat pengapian maka kita harus memeriksa apakah posisi octan selector sudah standard? Bila belum lakukan penyetelan
2. Apakah putaran idle sudah memenuhi putaran idle standard (tidak berubah ubah), bila belum lakukan penyetelan
3. Pada saat pemeriksaan saat pengapian saringan udara (air filter) harus terpasang
4. Apabila menggunakan vacuum ganda maka selang ke idle advancer dilepaskan dulu dan disumbat
PEMERIKSAN SAAT PENGAPIAN
Dengan menggunakan lampu timing periksalah saat pengapian sesuai dengan standart mesin, mesin tipe 5K 5 derajat sebelum TMA (lihat buku pedoman reparasi mesin)
SARINGAN BAHAN BAKAR ( FUEL FILTER )
Saringan bensin diperiksa pada waktu tertentu atau setiap kendaraan setelah menempuh jarak 5000 km dan bila perlu diganti baru. Saringan bensin disarankan untuk diganti minimal satu tahun sekali atau setiap kendaraan setelah menempuh jarak 20.000 km. Dewasa ini banyak saringan bahan bakar model catridge karena dipandang lebih praktis
Saringan bensin model catridge bentuknya merupakan satu kesatuan dengan elemen rumahnya.Ada juga mobil-mobil yang menggunakan saringan bensin model gelas. Pada saringan model glas ini bila elemennya sudah kotor atau tersumbat dapat terlihat jelas melalui gelas saringan.
Didalam pemasangan yang perlu kita perhatikan adalah arah masuk dan keluarnya bahan bakar bensin, agar pemasangannya tidak akan terbalik dan jangan lupa periksa apakah pemasangan klem sudah tepat.
a. PEMERIKSAAN SARINGAN BENSIN
1. Lepaskan saringan dari pengikatnya
2. Perhatikan saluran masuk dan keluarnya
3. Semprotkan udara dengan tekanan rendah dari saluran keluar ke saluran masuk 1 X
4. Ulangi hal yang sama dari saluran masuk ke saluran keluar
5. Ulangi hal yang sama kembali semprotkan udara dari saluran keluar ke saluran masuk
6. Periksa, tiuplah dari arah saluran masuk ke saluran keluar,apabila ringan berarti saringan sudah bersih akan tetapi bila masih berat berarti saringan harus diganti dengan yang baru.
b. SARINGAN UDARA (AIR FILTER)
Udara segar mengandung debu, bila debu ikut terhisap bersama udara yang masuk ke dalam silinder, maka akan terjadi keausan, masa penggunaan mesin menjadi pendek. Oleh sebab itu, debu atau kotoran harus dibersihkan dari udara yang dihisap ke dalam silinder. Saringan udara yang terpasang pada mesin selain berfungsi untuk menyaring udara dari debu, juga berperan sebagai penghambat kecepatan udara dan memperkecil suara “desis” udara.
Dalam melakukan perawatan berkala atau tune up disarankan agar saringan udara diperiksa dengan teliti.
c. PEMERIKSAAN ELEMEN SARINGAN UDARA
1. Lepaskan klip pengunci tutup saringan udara (air cleaner) dan lepaskan tutup saringan udara. Keluarkan elemen dan periksa permukaan luar elemen untuk mengetahui kondisi elemen saringan udara.
2. Elemen saringan udara dibersihkan dengan jalan meniupkan udara yang bertekanan rendah. Udara diarahkan dari bagian dalam mengarah keluar, kemudian dari luar kedalam, dan yang terakhir diarahkan dari dalam keluar.
3. Bila keadaan elemen sudah kotor, walaupun sudah dibersihkan, sebaiknya elemen ini diganti baru. Elemen saringan udara yang telah berlubang akan menyebabkan penyaringan udara ke kaburator menjadi terganggu. Abu dan kotoran yang turut masuk ke dalam kaburator dapat menyebabkan lubang-lubang kecil pada kaburator menjadi tersumbat dan ini akan mengganggu kerjanya karburator.
Perhatian: Elemen saringan udara yang terbuat dari kertas tidak boleh dicuci dengan air, bensin atau cairan lainnya, dan selain itu juga elemen diusahakan agar tidak terkena gemuk.
4. Sebelum memasang elemen pada rumah saringan udara, terlebih dahulu bersihkan rumah saringan udara ini dengan kain lap yang bersih untuk menghapus debu pada bagiandalam saringan. Usahakan agar tidak ada kotoran yang masuk ke dalam kaburator.
5. Setelah memasang elemen pada rumah saringan, perhatikan tanda panah yang terdapat pada tutup rumah saringan.
KOMPONEN SISTEM PENDINGINAN
Sistem pendingin terdiri dari beberapa komponen, antara lain: radiator, pompa air(water pump), tangki reservoir, tutup radiator, tali kipas dan slang air.
Didalam melakukan pekerjaan Engine Tune Up kita harus memeriksa bagian-bagian sistem pendinginan tersebut dengan prosedur yang benar. Mari kita lihat bagaimana cara memeriksanya.
a. PEMERIKSAAN SISTEM PENDINGIN
Periksa selang radiator kemungkinan ada yang rusak, pecah, menggelembung atau kendor pengikatnya atau perlu diganti.
Periksa posisi klem apakah ada yang rusak, kendor atau tidak tepat posisinya.
Periksa Radiator dan sirip-siripnya atau kebocoran air.
Periksa kran penguras apakah kendor atau bocor.
Periksa kebocoran sistem pendingin (dengan Radiator Cap Tester) dengan tekanan ±1.2 Kg/cm2
Periksa tutup radiator (dengan Radiator Cap Tester). Dengan tekanan 0.6-1 Kg/cm2
Periksa kualitas air pendingin. Menggunakan jari periksa kualitas air pendingin.
Periksa tangki cadangan (reservoir, air harus pada batas Max-Low)
Periksa tali kipas (tali kipas harus dilepas)
o Apakah tali kipas retak?
o Apakah tali kipas terkena oli?
o Apakah tali kipas telah aus?
Periksa ketegangan tali kipas diantara altenator & pompa air ketegangan 7-11 mm
Periksa suara bearing, pompa abnormal.
Periksa sirkulasi air pendingin (mesin panas & hidup).
Air pendingin diganti setiap 20.000 Km(40.000 Km jika memakai radiator coolant
b. PEMERIKSAAN KOMPONAN
Pemeriksaan kebocoran sistem pendingin dan tutup radiator menggunakan radiator cap tester
DISTRIBUTOR
Fungsi distributor untuk membagi arus yang bertegangan tinggi yang dibangkitkan oleh kumparan sekunder pada koil pengapian ke busi-busi melalui tegangan tinggi (kabel-kabel busi). Distributor ini terdiri dari beberapa bagian yaitu :
1. Tutup Distributor
2. R o t o r
3. P l a t i n a
4. Distributor Bodi
TUTUP DISTRIBUTOR
Pada tutup distributor terdapat terminal kabel tegangan tinggi pada sisi luarnya dan pada sisi dalam terdapat 4 buah terminal logam dan 1 buah terminal tengah (arang /brush)
Pada saat tune up bersihkan tutup distributor dengan kain lap perhatikan :
1.Keretakan tutup
2.Bersihkan terminal bagian dalam
3.Periksa panjang Brush
R O T O R
Rotor berfungsi sebagai pembagi arus tegangan tinggi yang nantinya akan diteruskan ke busi.Pada ujung rotor terdapat lapisan carbon yang keras dan tahan panas.
Bersihkan rotor dengan kain lap, periksa keretakan dan kebocoran rotor.
Catatan: Jangan menggosok ujung rotor dengan amplas
P L A T I N A
Platina berfungsi untuk memutuskan aliran arus listrik dari kumparan primer koil agar terjadi induksi pada kumparan sekunder.Periksa platina setiap 5000 km dan gantilah setiap 20.000 km.Periksa platina dan bersihkan apabila terlihat kotoran / kerak yang bisa menghambat aliran arus listrik.Apabila platina diganti maka kondensator juga harus diganti .
PENGGANTIAN PLATINA
Pada saat melakukan penggantian platina condensator harus diganti pula. dengan cara sbb :
1. Kendorkan mur 8 mm pengikat terminal kabel di samping luar bodi distributor
2. Lepaskan kabel platina bagian dalam
3. Kendorkan 2 buah baut pengikat platina
Perhatikan jangan sampai baut lepas dan masuk ke dalam rumah distributor
4. Lepaskan platina
PENYETELAN PLATINA
1. Bersihkan platina dari kotoran/minyak
2. Putar puli hingga nok poros sejajar dengan bilik karet platina
3. Dengan menggunakan fuller (0.4-0.5 mm) ukur celah antara nok dan sisi datar poros
4. Keraskan baut pengikat platina
5. Periksa rotor menghadap busi no. 2 pada saat silinder no 1 Top Kompresi
B A T E R A I
Baterai merupakan bagian dari kelistrikan mesin. Kelistrikan mesin pada sistem kelistrikan mobil digunakan untuk menghidupkan mesin dan menjaga agar mesin dapat tetap hidup. Baterai berfungsi untuk menyediakan sejumlah arus kepada komponen kelistrikan motor seperti motor, lampu-lampu dan sebagainya.
Pemeriksaan baterai yang masih terpasang pada mobil pemeriksaan electrolite (air aki) dapat dilakukan dengan menggoyangkan body kendaraan dan ini akan terlihat tinggi air akinya. Bila anda akan menambah air aki, diisi cukup sampai tanda “upper” saja dan jangan diisi berlebihan
Pemeriksaan baterai (aki) dilakukan secara visual, dan bila perlu baterai diperiksa secara keseluruhan dengan terlebih dahulu baterai dilepaskan dari mobil untuk dibersihkan. Berhati-hati waktu menangani pekerjaan ini, dan usahakan agar air aki tidak menetes pada bagian body kendaraan, sebab akan merusak cat. Tutuplah fender dengan pelindung.
a) PEMERIKSAAN BATERAI
1. Lepaskan kabel negatif (massa) terlebih dahulu, kemudian lepaskan kabel positifnya. Bila kabel positif dilepaskan terlebih dahulu akan terjadi percikan api, dan bila kunci pas yang digunakan menyentuh terminal atau body. Berhati-hati melepaskan kabel agar tidak merusak terminal, kendorkan mur pengikat kleman terlebih dahulu, kemudian tarik kabelnya ke atas.
2. Angkat kotak baterai tegak lurus ke atas, dan jangan miring sebab elektrolit akan mengalir keluar. Bila anda membawa baterai posisikan kedua tangan dibawah kotak baterai.
3. Karat pada terminal baterai. Bila terminal baterai berkarat bersihkan dengan air hangat, kemudian terminalnya diamplas atau disikat.
4. Baterai yang rusak dan bocor tidak dapat diperbaiki lagi dan harus diganti baru.
5. Pengikat klem baterai yang kendor atau berkarat terutama pada kabel starter yang berhubungan dengan baterai dan kabel massa kemungkinan perlu diperbaiki dan dibersihkan.
6. Dudukkan baterai (tempat pemasangan baterai yang terdapat pada ruang mesin) bila keadaannya berkarat dan rusak perlu segera diperbaiki.
b) BAGIAN BAGIAN YANG DIPERIKSA PADA BATERAI
1. Periksa Kotak Baterai
2. Periksa jumlah/volume electrolite
3. Periksa lubang penguapan pada tutup
4. Periksa berat jenis/BJ electrolite
5. Periksa terminal/pole baterai
6. Periksa tegangan baterai
c) PEMERIKSAAN BATERAI
1. Periksa kotak baterai
Bersihkan kotak baterai periksa bagian atas, samping dan bawah kotak.
2. Periksa volume electrolite
Letakan baterai pada tempat yang rata dan periksa volumenya electrolite pada batas Upper dan lower. Apabila kurang tambahkan dengan air suling
3. Periksa lubang penguapan pada tutup baterai.
Dengan menggunakan tekanan udara kompresor tiupkan udara pada lubang penguapan
4. Periksa berat jenis BJ electrolite
Dengan menggunakan Hydrometer periksalah BJ electrolite, normal 1.260-1.280 pada suhu 25o C perbedaan setiap sel < dari 0.025
5. Periksa terminal baterai/pole baterai
Bersihkan terminal baterai dari kotoran maupun minyak/vat dengan air hangat (bila perlu) kemudian gosoklah dengan amplas.
6. Periksa tegangan baterai
Dengan menggunakan baterai tester atau multi tester periksalah tegangan baterai (teg.bat 12.6 volt max.)
Catatan:
√ Jangan mengetes baterai dengan menghubungkan terminal positip & negatip baterai dengan menggunakan logam/kabel
√ Setelah penambahan air aki dengan air suling hidupkan mesin beberapa saat, baru kemudian periksa BJ nya
Sistem Pelumasan Percik
A. Pengertian Sistem Pelumasan Percik
Sistem pelumasan percik merupakan sistem pelumasan yang menggunakan sendok pemercik untuk menyebarkan oli atau memberi pelumasan pada bagian-bagian engine yang bergesekan agar tidak cepat rusak akibat panas yang timbul. Komponen yang bersinggung harus diberi lapisan film untuk mengurangi gesekan dengan menggunakan oli. Ada banyak sistem atau cara untuk melumasi komponen yang bergesekan diantaranya sistem pelumasan percik, sistem pelumasan campur, sistem pelumasan rendam, sistem pelumasan injeksi dan sistem pelumasan paksa yang sekarang banyak digunakan. Pada engine untuk mengoptimalisasi sistem pelumasan biasanya digunakan beberapa sisitem sekaligus misalnya pada transmisi digunakan sistem rendam, mekanisme katup digunakan sistem paksa dan lain sebagainya.
Pada sistem pelumasan percik sendok pemercik dipasang pada poros engkol. Permukaan sendok permercik sebagian terendam oleh oli, jadi jika mesin berputar atau poros engkol berputar maka sendok pemercik juga ikut berputar sehingga memercikkan oli ke bagian engine yang dilumasi. Komponen yang sering dilumasi dengan sistem percik adalah dinding silinder, torak, pen torak, connectingrod dan poros engkol. Pada engine dengan katup samping sistem percik juga digunakan untuk melumasi mekanisme katup dan campshaft.
B. Konstruksi
Sendok pemercik pada sistem pelumasan percik berputar jika poros engkol berputar karena dipasang pada poros engkol. Sebagian dari sendok pemercik terendam oli dalam tampungan oli (bak oli). Bentuk sendok bermacam-macam ada yang hanya seperti pelat dan ada yang menyerupai sendaok yang memiliki seperti daun pemercik.
Sendok pemercik tidak menjadi satu unit dengan poros engkol, jadi merupakan komponen tersendiri. Apabila terjadi kerusakan pada sendok pemercik maka penggantian akan mudah dilaksanakan dan tidak memerlukan biaya mahal tanpa harus mengganti poros engkol. Biasanya pada engine cukup menggunakan satu sendok pemercik karena satu sendok pemercik yang dipasang pasa poros engkol sudah memenuhi sistem pelumasan. Hal ini terjadi karena sistem pelumasan percik hanya diterapkan pada engine yang ber rpm rendah dan berdaya rendah serta engine yang berkatup samping. Sistem ini biasanya hanya diterapkan pada engine single cylinder serta engine yang berukuran atau memiliki konstruksi yang kecil. Jarang sekali bahkan tidak ada engine multy cylinder (mobil) yang menggunakan pelumasan sistem percik.
C. Cara Kerja Sistem Pelumasan Percik
Cara kerja sistem pelumasan percik menggunakan putaran poros engkol sebagai sumber energi putar. Semakin tinggi putaran mesin maka semakin besar jumlah pelumasan.
Permukaan sendok pemercik sebagian terendam oli sehingga apabila poros engkol berputar maka sendok percik akan memercikkan oli. Volume oli dalam bak oli mempengaruhi jumah pelumasan. Semakin banyak jumlah oli dalam bak pelumas maka jumlah pelumasan akan semakin besar dan sebaliknya apabila jumlah volume oli berkurang maka jumlah pelumasan akan semakin berkurang juga. Oleh karena itu jumlah volume oli harus sesuai dengan spesifikasi. Gambar di atas, sistem pelumasan percik hanya digunakan untuk melumasi dinding silinder, torak bagian bawah dan samping, cincin torak, connectingrod dan poros engkol. Gambar di atas diterapkan pada sepeda motor dua langkah yang tidak menggunakan katup. Akan tetapi ada juga engine empat langkah yang menggunakan sistem pelumasan percik tetapi dengan konstruksi katup-katup samping.
D. Aplikasi Sistem Pelumasan Percik
Aplikasi sistem pelumasan percik banyak dijumpai pada kendaraan dua langkah yang kuno seperti pada vespa dan pada L2 Super. Sistem pelumasan percik hanya diterapkan pada engine yang mempunyai rpm dan daya rendah serta pada engine yang memiliki konstruksi katup-katup samping. Selain itu sistem ini hanya diaplikasikan pada kendaraan satu silinder dan bentuk engine yang relatif kecil. Pada engine multi silinder sudah menggunakan sistem paksa dan sistem rendam yang diterapkan pada transmisi dan differensial.
Sekarang ini juga masih ada engine yang menggunakan sistem percik seperti pada motor bensin 5,5 HP yang banyak digunakan pada mesin penggerak kompresor. Mesin tipe ini mempunyai konstruksi katup-katup yang disamping sehingga memungkinkan untuk digunakan sistem percik sehingga biaya produksi yang murah serta dengan sistem pelumasan sudah cukup terpenuhi. Pada mesin ini, sistem pelumasan digunakan untuk melumasi katup-katup juga.
E. Keuntungan dan Kelemahan Sistem Pelumasan Percik
Sistem pelumasan percik banyak memiliki kekuragan di bandingkan dengan keunggulan yang dimiliki, oleh karena itu sekarang sistem ini sudah jarang digunakan.
Beberapa kelemahan dari sistem pelumasan percik sebagai berikut :
1. Volume oli. Semakin tinggi volume oli maka sendok percik yang terendam akan semakin dalam maka jumlah oli yang dipercikkan akan bertambah, sebaliknya jika jumlah oli kurang maka jumlah oli yang dipercikkan akan berkurang juga.
2. Putaran mesin. Jumlah oli juga bergantung pada rpm mesin, semakin tinggi rpm mesin maka jumlah oli semakin banyak dan sebaliknya.
3. Posisi engine. Pada saat tanjakan dengan kondisi menurun maka jumlah oli yang dipercikkan akan berubah, jadi jumlah oli yang dipercikkan tidak stabil dan tidak sesuai dengan kebutuhan engine.
4. Aplikasi sistem pelumasan percik terbatas pada engine dengan konstruksi mesin kecil, rpm rendah, daya rendah dan konstruksi katup samping serta single silinder. Oleh karena itu jika diaplikasikan pada engine yang selain spesifikasi di atas maka jumlah oli tidak memenuhi, sebagai contoh pada engine multi silinder maka jumlah oli tidak memenuhi sehingga tidak digunakan sistem ini. Pada multi silinder banyak digunakan sistem paksa.
Sedangkan keunggulan dari sistem pelumasan percik adalah sebagai berikut
1. Konstruksi sederhana.
2. Biaya produksi yang murah.
3. Mudah dalam perawatan dan perbaikan.
Berdasarkan hal tersebut maka sistem pelumasan percik ditinggalkan diganti dengan sistem yang lebih baik yang tentunya lebih mudah diaplikasikan pada kendaraan jenis apapun dan tentunya yang terpenting adalah pulumasan sesuai dengan kebutuhan engine baik pada putaran tinggi maupun putaran rendah serta tidak terpengaruh oleh kondisi jalan.
Teknologi VTEC Pada Sepeda Motor
Cara kerja H-VTEC pada sepedamotor VFR800:
Mesin menggunakan DOHC dengan 4 katup tiap silinder, namun keempat katup tidak bekerja bersamaan tetapi berdasarkan
• Putaran mesin; 2 katup persilinder sampai putaran 6.800 rpm, diatas 6.800 rpm 4 katup bekerja semua.
• Temperatur suhu cairan pendingin; 2 katup persilinder sampai suhu 65 derajat Celcius.
Jika kondisi operasi 4 katup dipenuhi maka ECM akan mengaktifkan “spool solenoid valve” untuk mengalirkan tekanan minyak pelumas ke “slide pin” sehingga bergeser dan mengunci batang katup sehingga ke-empat katup beroperasi semua.
Sedangkan jika tidak terpenuhi “slide pin” akan berada pada posisi bebas sehingga walaupun camshaft menekan valve lifter, tetapi tekanannya tidak diteruskan ke batang katup, operasi 2 katup per silinder.
Jadi pada putaran rendah kecepatan aliran udara tetap tinggi karena hanya satu katup masuk yang terbuka, dan pada putaran tinggi dimana kecepatan aliran udara sudah tinggi pemasukan campuran bahan bakar dan udara menjadi maksimal karena ada dua katup masuk yang terbuka.
VVT-i (Variable Valve Timing Intelligent)
VVTi adalah singkatan dari Variable Valve Timing Intelligent. Peranti ini mengatur bukaan katup melalui pergerakkan camshaft. Sehingga, efeknya, output tenaga akan semakin maksimal pada setiap putaran mesin namun dengan konsumsi bahan bakar yang lebih efisien dan tingkat emisi yang jauh lebih rendah.
Teknologi VVTi diaplikasikan pada katup masuk sehingga waktu bukaan katup bisa menyesuaikan dengan kebutuhan mesin. Sehingga, pada waktu mesin bekerja tanpa beban, seperti pada saat stasioner, maka waktu bukaan katup akan mundur beberapa derajat sehingga pasokan bahan bakar akan menjadi lebih efisien. Sementara pada saat mesin bekerja demi mendapatkan akselerasi, maka bukaan katup akan dimajukan yang membuat bukaan katup akan menjadi lebih lama, sehingga pasokan bahan bakar semakin meningkat sehingga tenaga yang dihasilkan pun akan semakin optimal.
Peranti VVTi terdiri dari controller yang di dalamnya terdapat dua jalur oli menuju masing-masing ruangan oli yang berisi katup untuk saluran oli untuk menggerakkan mekanisme gear hidraulis yang terhubung dengan camshaft. Di dalamnya. Dari jalur oli yang berbeda inilah, gear hidraulis akan mengatur waktu bukaan katup. Saat posisi timing maju maka katup oli akan membuka, sehingga tekanan oli akan menggerakkan gigi hidraulis yang selanjutnya akan mengatur derajat camshaft sehingga waktu bukaan katup berubah. Kebalikannya, untuk kondisi timing retard (mundur), maka tekanan oli akan berkurang.Tekanan oli didapat oleh pompa yang diatur oleh ECU mesin.
Konstruksi pada sistem VVT-i :
1. VVT-i Controller
2. Camshaft Timing Oil Control Valve
Keuntungan dari kinerja sistem VVT-i :
1. Pembakaran yang stabil dapat diperoleh bahkan pada putaran mesin yang rendah. Dengan putaran mesin yang rendah saat stasioner (idle) maka efisiensi bahan bakarnya menjadi lebih baik.
2. Kerugian tenaga mesin dapat dikurangi sehingga efisiensi bahan bakarnya meningkat. Selain itu, hasil gas buangnya pun lebih ramah lingkungan.
3. Kemampuan mesin dapat dioptimalkan sehingga tenaga yang dihasilkan dapat maksimal.
Sistim VVT-i (Variable Valve Timing - Intelligent) merupakan serangkaian peranti untuk mengontrol penggerak camshaft. Maksudnya adalah menyesuaikan waktu bukaan katup dengan kondisi mesin. Sehingga bisa didapat torsi optimal di setiap tingkat kecepatan. Sekaligus menghemat bahan bakar dan mengurangi emisi gas buang.
Pada mesin Toyota, sistim ini diaplikasikan pada katup masuk. Waktu bukaan camshaft bisa bervariasi pada rentang 60 derajat. Misalnya, pada saat start, kondisi mesin dingin dan mesin stasioner tanpa beban, timing dimundurkan 30 derajat.
Cara ini bakal menghilangkan overlap. Yaitu peristiwa membukanya katup masuk dan buang secara bersamaan di akhir langkah pembuangan karena katup masuk baru akan membuka beberapa saat setelah katup buang menutup penuh. Logikanya, pada kondisi ini mesin tak perlu bekerja ekstra.
Dengan tertutupnya katup buang, tak ada bahan bakar yang terbuang saat terisap ke ruang bakar. Konsumsi BBM jadi hemat dan mesin lebih ramah lingkungan.Sedangkan saat ada beban, timing akan maju 30 derajat . Derajat overlapping akan meningkat. Tujuannya untuk membantu mendorong gas buang plus memanaskan campuran bahan bakar dan udara yang masuk. Selain itu, waktu kompresi juga bertambah karena katup masuk juga menutup lebih cepat. Efeknya, efisiensi volumetrik jadi lebih baik.
Untuk mewujudkannya, ada VVT-i controller pada timing gear di intake camshaft. Alat ini terdiri atas housing (rumah), kemudian di dalamnya ada ruangan oli untuk menggerakkan vane (baling-baling). Baling-baling itu terhubung dengan camshaft. Di dalamnya terdapat dua jalur oli menuju masing-masing ruang oli di dalam rumah VVT-i controller. Dari jalur oli yang berbeda inilah, vane akan mengatur waktu bukaan katup. Posisi advance timing maju didapat dengan mengisi oli ke ruang belakang masing-masing bilah vane. Sehingga vane akan bergerak maju dan posisi timing pun ikut maju 30 derajat. Tekanan olinya sendiri disediakan oleh camshaft timing Oli Control Valve yang diatur oleh ECU mesin.
Kebalikannya, untuk kondisi retard (mundur), ruang di depan vane akan terisi dan posisi timing mundur. Sedangkan kalau dibutuhkan pada kondisi standar, ada pin yang akan mengunci posisi vane tetap ada di tengah



